Pages

Saturday, August 6, 2011

me me me again

just be normal for once and have friends instead acquaintance.

Sunday, July 31, 2011

Smallish Furry Friend - Hamster!

Roborovski Dwarf Hamster
   Berbulu, lucu, mirip tikus tapi ekornya kena korting: hamster. Siapa sih yang tidak suka hamster? (Banyak, mbak.) Hewan yang tergolong pengerat dari subfamily Cricetinae ini sekarang mulai marak dipasarkan. Mencengangkan memang sekarang penjual hamster merajalela dimana-mana, di sekolah-sekolah, di pasar Minggu, pasar dadakan, sampai pedagang keliling. Harganya mulai dari yang keukeuh pertahankan harga ratusan ribu hingga yang hitungan ribu (super murah). Jenis yang dijual rata-rata itu-itu saja. “Nih, Neng, ada WW, Kembel, GRE, GBE, Pearl, Sapir, Robo, Robo WF, hibrit, blekete blekete blekete~”

Roborovski - White Face
   Apaan, tuh?? Tentu saja itu istilah pedagang hamster untuk menyingkat nama hamster yang terkadang jadi super panjang. Berikut istilah dan abreviasinya:
  • GRE: Golden Red Eye
  • GBE: Golden Black Eye
  • WW, Pearl, Sapir (Sapphire): Keluarga dwarf hamster Winter. Winter White.
  • Kembel : Dwarf hamster jenis Campbell.
  • Roboropski, Robo WF: Roborovski, Roborovski White Face
  • Hibrit: Hybrid, Hamster hasil silangan spesies, contohnya jenis Golden dari hasil silangan Winter dan Campbell
   Jenis hamster ada berapa? Banyak, Bung. Tapi yang sering dijual itu rata-rata cuma 4 spesies, dan sebagian besarnya hamster Rusia: Syria (Golden), Winter, Campbell, dan Roborovski. Adapun jenis-jenis yang lain adalah:
  • Golden Hamsters 
  • Chinese hamsters 
  • Djungarian Hamsters
Campbell Dwarf Hamster
   Lalu apa yang membuat hamster jadi peliharaan menarik? Itu karena perawatannya gak repot kaya kucing mahal, gak bau kayak kelinci,  dan gak makan tempat kayak anjing atau gajah. Bentuk tubuhnya yang imut-imut khas pengerat serta bulunya yang selembut kapas kecantikan, akan membuat hati kamu kepincut. Hewan ini juga bisa dilatih serta menjadi penghibur yang ulung. Namun, sayang, tidak seperti kucing, burung, atau anjing yang relatif berumur panjang, hamster memiliki usia hidup yang cukup singkat. Apabila dirawat dengan baik, hamster bisa hidup hingga 2-3 tahun. Bayangkan jika hidupmu dirangkum menjadi dua tahun saja, masa-masa puber tentunya akan menjadi sangat singkat. Asyik.
   
   Anyway, kekurangan dari hewan ini sebagai peliharaan adalah mereka beranak seperti pengerat (tentu saja). Jika kamu punya sepasang hamster, rata-rata mereka menghasilkan 4-11 ekor sekali lahir; dan mereka bisa beranak hingga 2 minggu sekali jika kamu tidak memisahkan pasangan tersebut. Perhitungannya jika sekali beranak 6 ekor maka seperti berikut:

1 tahun = (365 : 14) * 6 = 156-an ekor

Bisa-bisa satu rumah penuh dengan hamster, nih.
Kekurangan inilah yang membuatnya sangat cocok dijadikan lahan usaha. Nah, jika seekor hamster dihargai Rp 10.000 rupiah, maka perhitungannya untuk satu tahun adalah:

156 * Rp 10.000 = 1.560.000 satu pasang hamster.
10 pasang hamster: 10 * 1.560.000 = 15.560.000
100 pasang hamster: 100 * 1.560.000 = 156.000.000

Ini hanya hitungan kasarnya. Bisa saja kurang dan bisa pula lebih.

Golden Hamster
   Pantangan dalam merawat hamster adalah jangan memberi makan sembarangan dan jangan biarkan hamster kena heat stroke. Karena habitat alami hamster adalah di padang rumput, maka makanannya gak jauh-jauh dari biji-bijian, buah-buahan, atau bunga-bungaan. Namun tetap saja tidak semua biji, buah, dan bunga bisa dimakannya. Berikut adalah panganan yang cocok untuk hamster:

  1. Biji-bijian seperti biji milet, kenari, dan biji bunga matahari (favorit)
  2. Kacang-kacangan seperti kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau.
  3. Beras merah dan padi/gabah
  4. Jagung
  5. Tauge
  6. Wortel
  7. Konsentrat/Pelet. Lebih baik berikan pelet khusus binatang pengerat.
  8. Dan lain-lain
Sedangkan makanan yang sebaiknya dihindari adalah:
  1. Makanan mengandung gula berlebih seperti coklat, permen, marshmallow, dll;
  2. Henbane;
  3. Daun salam;
  4. Daun cemara;
  5. Bawang-bawangan seperti bawang merah dan putih;
  6. Daun pohon ek;
  7. Sayuran berkadar air tinggi seperti timun dan tomat (memicu diare);
  8. Bunga Buttercups;
  9. Daging mentah karena dapat memicu kanibalisme.
   Terakhir, jika kamu ingin membina hubungan yang harmonis dengan hamstermu, bisa coba beri ia treat atau snek nikmat seperti:
  1. Biskuit anjing atau makanan kering untuk anak kucing,
  2. Telur rebus,
  3. Apel,
  4. Brokoli atau kembang kol,
  5. Oat tanpa rasa,
  6. Kacang atau popcorn yang dimasak tanpa minyak,
  7. Sereal,
  8. Roti, dan
  9. Madu murni.
  Karena habitat alami hamster rata-rata berada di daerah beriklim sejuk dan dingin, hamster sangat rentan terhadap perubahan suhu mendadak dan cuaca panas. Contohnya temenku yang lupa waktu saat menjemur hamsternya di teras, begitu dia mau memasukkan kandang, ternyata hamsternya R.I.P kena heat stroke. (Biola berbunyi).

Nah, setelah membaca, apakah kamu tertarik memelihara hamster? 
 
Ciit ciit.




Keywords: hamster, pakan hamster, kombinasi makanan hamster, jenis hamster, pantangan makanan hamster, treats, feeding, diet, foods to avoid
Tags: hamster, hobi

What Every BODY is Saying


  • Apa kamu selalu menyilangkan lenganmu di dalam lift?
  • Dadamu berdebar kencang dan pipimu tersipu jika seseorang (apa lagi yang kau sukai) berada terlalu dekat denganmu?
  • Apa kamu menggosok lenganmu ketika menunggu namamu disebut di dokter gigi?
  • Atau pernahkah memainkan rambutmu di depan orang yang kau sukai?

Berbagai gesture
Tanpa kita sadari ketika sedang berinteraksi dengan orang lain atau dalam suatu lingkungan sosial, kita sebenarnya menyampaikan pesan-pesan yang tidak kita sampaikan melalui perkataan kita. Tubuh dan perilaku kita kerap kali membeberkannya tanpa kita inginkan. Ini disebut dengan bahasa non-verbal.


   Apa bahasa non-verbal berbahaya? Bisa saja. Jika kamu sedang berbohong kepada seseorang atau tingkah-lakumu membuat orang lain merasa tidak nyaman atau tersinggung—meskipun tidak semua orang cukup “peka” terhadap petunjuk-petunjuk non-verbal. Namun, jika kamu melatihya, kamu dapat “membaca” isi hati dan pikiran seseorang dari tingkah lakunya.

   Itulah yang menjadi keahlian Joe Navarro, seorang mantan penyelidik FBI dan pakar di bidang komunikasi non-verbal. Selama 25 tahun bekerja sebagai penyidik, pengalaman Navarro sebagai seorang imigran dan kemudian bertahan hidup dengan cara “membaca” orang lain, membuatnya mampu memecahkan banyak kasus yang sebelumnya tidak dapat dipecahkan hanya dengan mengamati bahasa tubuh. Setelah pensiun, beliau bekerjasama dengan psikolog Marvin Karlins untuk membuat sebuah buku berjudul WHAT EVERY BODY IS SAYING, yang berisi pengalaman Navarro beserta tips & trik mengamati dan menganalisis bahasa tubuh dengan cepat.

   Buku setebal kurang lebih 240 halaman ini menggunakan bahasa yang enak dan ringan dibaca, lengkap dengan ilustrasi deskriptif dan contoh kasus yang menarik. Buku ini juga tidak membosankan dibandingkan buku serupa di pasaran yang umumnya seperti buku teks. Namun, salah satu perbedaan antara buku ini dan buku lain yang sejenis adalah kurangnya contoh kasus sebagai sarana para pembaca melatih pengamatan.

   It doesn’t matter, by the way. Buku tetap menghibur dan akan sering membuatmu menganga. Siapa tau kamu sedang mengincar seseorang yang kau sukai, dibanding kamu bingung apakah ia juga suka padamu atau tidak, bacalah buku ini. Kamu bisa yakin bagaimana perasaan dia padamu hanya dari bahasa tubuh sederhana—dari pupilnya. Jika pupilnya membesar, selamat deh kamu punya pacar baru.
Kalau pupilnya menyempit . . . Hmm, temannya kayaknya lucu juga, tuh . . . :p




Where to buy:
Amazon
eBay




Keywords: WHAT EVERY BODY IS SAYING, Marvin Karlins, Joe Navarro, bahasa non-verbal, komunikasi non-verbal, non-verbal, non-verbal language, non-verbal communication

Wednesday, March 30, 2011



I may not be mad at you.
I may not let you know.
I may not let you see how restless I am.

M, is this how I love you?

Sunday, June 13, 2010

Makanmakan: Pecel Lele Metro


Nama tempat : Pecel Lele Metro

Lokasi : depan Mie Jawa Ijonk, Metro Indah Mall (MIM) Jl. Soekarno Hatta.

Jenis makanan : Makanan Sunda dan Pecel Lele

Range harga : Rp 4.000 – Rp 20.000



Senin minggu kemarin saya dan si pujaan hati jalan-jalan sampai sore. Mau pulang tapi perut keroncongan, daripada nyampe ke rumah kelaparan kami memutuskan untuk singgah dulu ke MIM. Tadinya kita mau makan KFC, tapi dipikir-pikir nantinya mahal ga jelas, nah kebetulan dari jauh kelihatan billboard besar bertuluskan PECEL LELE Metro. Tempatnya sangat strategis dan mudah ditemukan, begitu masuk MIM dari gerbang alternatif, billboardnya langsung terlihat. Waktu masuk ke dalam juga suasananya ngewarung banget tapi terang dan bersih.

Kami langsung duduk di spot paling pojok (jangan mikir yang mesum!), tapi sial, banyak lalat! Namun jangan khawatir, tinggal minta lilin saja kok ke pegawainya, pegawainya ramah-ramah. Lebih baik kalau pilih spot yang rada ke tengah biar sedikit aman dari gangguan para lalat. Tibalah menu di meja kami. Kalau dilihat tempat dan lokasi, saya pikir harganya mahal, ternyata tidak! Nasi di banderol harga Rp 2000, Ayam-ayam (saus mentega, kecap, balado, bakar kecap, dll) harganya Rp 7000, dan tumisan (kangkung, genjer, dll) seharga Rp 4000, murah kan? Itu belum semuanya, di rumah makan ini juga jualan seafood, terutama udang dengan saus-saus pilihan (asam manis, saus tiram, dll) dan harganya tidak jauh beda dengan ayam. Yummy!

Tibalah makanan kami, saya pesan ayam bakar dan pasangan saya pesan ayam saus mentega. Rasanya mmm… lumayan memanjakan lidah, melebihi harganya-lah! Ayam saus menteganya enak, ayam bakarnya juga (sudah tentu). Tapi bagi yang tidak suka jahe, disarankan jangan pesan ayam bakar, meskipun overall rasanya nikmat, rasa dan aroma jahenya lumayan kuat. Untuk minuman saya pesan lemon squash saja, ya standar lah rasanya hampir dimana-mana sama. Kami makan berdua total seharga Rp 21.000, sangat terjangkau dari kantong mahasiswa seperti saya.

Jadi buat kalian yang ingin makan murah tapi rasa enak, tempat ini wajib buat kalian tongkrongin. Sambil makan, disuguhi pemandangan ke arah jalan dengan lampu-lampu kiosnya yang temaram, romantic banget dwech! Hahaha.

Saya ga bercanda. HA HA.



Sekian dulu yooo, nantikan review-review tempat makan lainnya, otreh!

Review: Fingersmith


Susan Trinder:

For if I was young, then she was an infant, she was a chick, she was a pigeon that knew nothing.

Maud Lilly:

She is pleased with the curtsey, I can tell. She is pleased with me. She thinks me a fool. The idea upsets me, more than it should. I think, You have come to Briar to ruin me.


Fingersmith adalah buku karangan Sarah Waters yang menceritakan bagaimana takdir mempertemukan dua orang wanita dari latar belakang yang berbeda. Cerita tentang seorang gadis yang tinggal bersama keluarga fingersmith (pencopet) dan seorang gadis anak bangsawan yang tinggal di rumah megah di pinggir kota. Kehidupan mereka yang tenang suatu saat akan berubah drastis yang bermulai dari sebuah rencana konspirasi yang kotor.

Wanita pertama adalah Susan Trinder, ia tinggal bersama Mr. Ibbs dan Mrs. Sucksby—sosok ibu yang sangat ia sayangi beserta ‘sepupu-sepupu’nya, John Vroom dan Dainty Warren. Namun Susan bukanlah anak kandung dari Mrs. Sucksby, ia diasuh olehnya ketika ibunya meninggal dengan tragis akibat hukuman gantung. Di mata Susan –atau Sue, Mrs. Sucksby merawatnya dengan baik—lebih baik daripada anak asuhnya yang lain, selain itu Mrs. Sucksby sering berkata pada suaminya bahwa Sue suatu saat akan merubah segalanya menjadi lebih baik.

Wanita kedua adalah Maud, Maud Lilly, seorang gadis yang tinggal bersama kakeknya di sebuah rumah besar di pinggir Sungai Thames. Masa lalunya juga tidak kalah suram, ibunya gila dan masa kecilnya ia habiskan di rumah sakit jiwa—setidaknya itu yang selalu diceritakan pamannya. Pamannya adalah seorang terpelajar yang mempunyai perpustakaan besar di rumahnya, dan sering dikunjungi rekan dan kolega-koleganya. Mr. Lilly memperlakukan Maud seperti alat, ketika rekan atau koleganya berkunjung Maud akan dipanggil dan diperintahkan untuk membaca banyak buku untuk mereka. Ini sebagai balas budi Maud akan kehidupannya yang baru selain rumah sakit jiwa.

Suatu hari seoran pria bernama Gentleman muncul di kediaman Mr. Ibbs. Ia datang membawa sebuah rencana besar dan meminta izin agar Sue bisa menjadi rekannya. Rencana itu adalah untuk mengambil harta seorang bangsawan tua dengan cara menikahi keponakannya yang merupakan pewaris asli dari kekayaannya tersebut—benar, keluarga tersebut adalah keluarga Mr. Lilly.

Konspirasi. Itulah kata yang tepat menggambarkan apa yang terjadi berikutnya, lalu menyusul kejadian-kejadian yang mencengangkan, membingungkan, pengkhianatan dan kekuatan cinta. Apakah yang akan terjadi pada kedua gadis ini? Apa yang sebenarnya mereka rasakan satu sama lain? Adakah hubungan antara mereka berdua? Jawaban yang dicari dalam buku yang di terbitkan Riverhead Books ini.

Waters amat cerdas dalam menentukan plot hingga kesan yang ada tidak menjemukan. Bahasa yang digunakan pun sangat luwes dan berkarakter sehingga siapapun yang membacanya dapat dengan tepat membayangkan apa yang ada di kepala pengarang. Tetapi diantara semuanya, cara penyajiannya lah yang paling unik. Waters menceritakan kisah ini dari dua sudut pandang yang berbeda yang pada akhirnya akan saling melengkapi satu sama lain. Pembaca akan tenggelam dalam karakter yang ada dan terlibat secara emosi di dalamnya, ini yang membuat buku buku setebal lebih dari 400 halaman ini (ebook), a read-must.



From Z’s eye:

Wow. Itu kata pertama saya waktu baca buku ini. Saya benar-benar tenggelam di dalamnya sampai-sampai saya menyelesaikannya sekali jadi! Sekali angkat, buku itu susah saya taruh kecuali waktu harus pergi ke toilet atau ambil kopi.

Sarah Waters memang cerdas memainkan perasaan pembaca. Kadang-kadang saya bisa sebal, kadang-kadang saya merasa hangat karena cinta (ciee), sesaat kemudian saya dibikin tergelak. Pokoknya top abis deh! Dibandingkan novel Sarah Waters yang lain, novel ini yang paling saya sukai dan nikmati. Sayangnya nobel ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, kemarin juga saya baca versi Bahasa Inggrisnya.

Menurut saya, pemilihan katanya cukup bersahabat, jadi saya tidak perlu bolak-balik buka kamus, ya kecuali istilah-istilah Inggris abad ke 19 yang bikin saya harus putar otak mengartikannya—tapi ini tidak mengganggu pengalaman saya dalam membaca bukunya. Mudah-mudahan buku ini segera diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia agar jangkauan pembacanya lebih luas lagi, soalnya buku bertema lesbian masih langka ditemukan di Indonesia.

Sekali lagi, buku ini tidak akan menjadi buku yang nantinya Anda sesali nangkring di rak buku Anda, trust me!

Monday, May 17, 2010

Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hari tanggal 14 Mei kemarin, semuanya seperti serba bertumpuk, serba sial, serba basah, dll. Hari itu bisa saja dimulai dengan biasa saja, bangun di rumah istri, mencoba untuk keluar dengan keadaan selamat serta tidak ketahuan dan dengan sedikit usaha pun berhasil; namun, pada prosesnya, satu per satu sentilan bermunculan.
Saya kuliah seperti biasa, di jalan pun lancar-lancar saja, namun di kampus keadaan hari itu mulai nyeredet hate. Mungkin ya, mungkin, orang yang lihat atau orang yang jadi saya bakal nilai saya sedih. Saya pakai baju tidur plus jaket biru tua bulu-bulu favorit saya, gak ada yang ngeh kalausaya pakai baju tidur, baguslah; terus sepasang sepatu converse merah marun saya pakai tanpa kaus kaki, ini kasih bonus lecet-lecet di tumit dan di kelingking jari kaki. Belum seberapa, saya selesai kuliah itu jam 10.20 tapi terpaksa menunggu istri sampai jam 3. Oke, kata saya, ga masalah, menunggu bukan masalah buat saya. Tadinya sambil membuang waktu saya mau nebeng kostan sama teman, salah satunya setuju-setuju saja tapi lama kelamaan mereka tidak menunjukkan adanya komformitas (yang sembunyi-sembunyi biar saya gak tahu, tapi pasti saya tahu laah), akhirnya katanya mereka mau jalan-jalan dulu, ko jadi ribet? Kata hati saya, jadi saya urungkan niat saya, terlebih lagi salah satunya sudah menghindari kontak mata, saya juga jadi gak enak, yo wes, tak kembali aja ke kampus, pikir saya.
Saya memang tidak punya banyak teman, kebanyakan dari teman sekelas sudah punya clique masing-masing, apalagi saya tidak suka bergerombol kaya gitu, jadinya saya pilih duduk sendiri. Saya putuskan ambil kursi dan rencananya mau makan di kantin, mau beli nasi saja, soalnya lauknya sudah dibawakan sang istri.
Sebelum makan, saya kebelet kepengen pipis, saya geledahlah tas saya yang warna merah marun and bolong-bolong itu, jengjeng pembalut lupa saya bawa: saya harus beli dulu. Tapi dilemanya begini, kalau saya beli pembalut, uang saya hanya dua ribu yang artinya saya harus pilih makan atau pipis?? Ya okelah kalau begitu, kebutuhan yang lebih mendesak saja, jadi saya belikan pembalut, deh. Sisa seribunya saya belikan Sari Gandum buat ganjal perut, terus minta segelas air sama yang punya warung.
Dari langit terdengar suara:

Dear Zed, how sad you are, got no friend, no money, begging for a glass of water, eat less than a fly weight, and don’t even wear socks!

“Aku baik-baik saja, menikmati hidup yang aku punya,” (Oppie Andaresta) balas saya.

Istri saya akhirnya selesai kuliah, senangnya, saya lalu bergegas menjemput. Di jalan, langit berbaik hati menebarkan air dari atas sana, deras pula. Saya memang pakai ponco, tapi ternyata bocor di daerah tengkuk dan tidak menutupi kaki saya. Alhasil, jaket basah dan sepatu saya berubah fungsi jadi gayung air.
Sesampainya di tempat penjemputan, saya gak sempat berebut tempat berteduh, jadinya cuma bisa berdiri menghadang hujan dipinggir jalan. Kaya sinetron aja, cuma pake ponco…hahaha. (tawa getir). Istri saya menemui saya di tempat makan nasi padang—saya akhirnya mau beranjak dari pinggir jalan, karena takut ganggu orang parker—selama penantian di sana, saya sangat tersiksa. Wangi masakan nasi padang benar-benar membuat perut saya meraung, nasi… rendang…ayam balado…graauhhh, katanya. Waktu datang, istri saya nampak seperti malaikat, thank you for getting me outta here… Lalu perjalanan berlanjut, ke suatu tempat di jalan Ranggamalela.
Di sana saya akhirnya bertemu dengan nasi, dan istri saya pesan indomie rebus. Disini, grafik hari itu sedikit meningkat lah, ya. Nikmatnya…meskipun terganggu dengan sekelompok orang yang merhatiin terus, dan ternyata artis. Kepengen dilihat balik kayanya, tapi kami cuek saja makan sambil ngobrol. Selesai makan hari masih hujan, tapi kami putuskan pulang saja, saya kangen tempat tidur saya. Semakin kami mendekati tempat tujuan kami, hujan sedikit bertambah deras. Inilah final dari hari itu. BANJIR BESAR, ya ga besar-besar amat, sih. Tapi cukup besar untuk menenggelamkan motor kami dan membuat kami stuck tidak bisa kemana-kemana—mundur kena, maju kena. 

Jalan besar macet total dan nampak seperti medan peperangan lengkap dengan lubang di jalan segede balong (kolam ikan) seperti bekas mortar. Layaknya berada di garis depan, satu persatu kami melihat prajurit terluka yang mundur dari garis depan berupa orang-orang yang mendorong motor dan mobil mereka. Istri saya berangkat untuk memeriksa keadaan, dan pulang dengan laporan bahwa di depan ada banjir setinggi paha, ma’am! Bagus. Itu artinya bisa berjam-jam untuk surut. Dengan keadaan basah dan sepatu terisi penuh air, kami meninggalkan garis depan untuk ngenet. 2 jam saja cukup nampaknya, sekalian saya cari-cari materi buat blogging dan istri saya ngecek facebook. Kami lalu-lalang di warnet bertelanjang kaki, karena efek hujan juga nyiprat kesini (genangan air dari rembesan tanah). 

Setelah 2 jam, dirasa cukup untuk melanjutkan. 
Rasanya ingin teriak saya, ternyata hujan tidak berhenti dan artinya banjir belum tentu surut. Benar saja, kemacetan memang berkurang, tetapi banjirnya tidak. Dengan bantuan dari seorang panglima (bapak-bapak yang berkata, “Ayo, bareng saya saja!”), kami literally berenang bersama motor kami yang juga kami paksa meraung, kalau tidak air bisa masuk dan mogok total.


Tapi di perjalanan aneh, ada nelayan tersesat! Coba cari ikan di selokan menggunakan jala! hahaha. 
Akhirnya, lautan itu terlewati! Saya ucapkan perpisahan pada istri saya, karena di sini saya harus kembali ke arah kami datang—mengarungi lautan itu sekali lagi, untuk mencapai rumah. Di perjalanan kembali, saya sudah tidak bisa membedakan yang mana selokan dan jalan, semuanya bergabung menjadi Sungai Rancabolang. Saya sudah tidak peduli dengan penampilan dan hujan yang merintik di kepala saya, saya hanya fokus berenang—not literally—dan berharap tidak hanyut terseret arus (lebay). Istri saya hanya bisa khawatir, tapi saya akhirnya tiba di rumah membawa oleh-oleh celana basah, sepatu basah, rambut basah, dan kaki keriput. “Lihat, Mah! Saya bawa oleh-oleh dari Bandung, nih! Banjir!” Hahah.


Di rumah, saya bercinta sejenak dengan ranjang lalu tewas.

Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan hari tanggal 14 Mei kemarin, selain PETUALANGAN.

Saya bersyukur akan kehadiran soulmate saya, kalau bukan karena dia, saya pasti sudah kalap teriak-teriak layaknya orang gila. Hahaha. I love you, Bu!
What a day!